Morgan Stanley: Cap Smelter Aluminium RI Naik 1,3 Juta Ton 2027

Morgan Stanley memperkirakan Indonesia akan menambah kapasitas smelter aluminium tahunan se

besar 866.000 metrik ton (mt) pada 2026, serta tambahan 1,2 juta hingga 1,3 juta mt lagi pada 2027.

Kepala Riset Material China Morgan Stanley Rachel Zhang menyebut potensi tambahan kapasitas smelter tersebut terjadi lantaran produsen aluminium China tengah berlomba-lomba melakukan ekspansi ke luar negeri akibat pembatasan kapasitas smelter domestik maksimal 45 juta mt per tahun.

Salah satu proyek smelter aluminium China di Indonesia ialah fasilitas milik Shandong Nanshan Aluminium di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi, dengan rencana ekspansi yang akan melipatgandakan kapasitasnya.

Di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah, Xinfa Group dan Tsingshan Holding Group tengah mengoperasikan fasilitas dengan kapasitas 600.000 mt per tahun.

“Pada akhirnya, semua bergantung pada aspek ekonomi. Sebagian besar perusahaan ini adalah milik swasta dan berorientasi pada keuntungan,” ujar Zhang, seperti disitir dari Reuters, Rabu (28/10/2026).

“Jika sebuah proyek jelas tidak menghasilkan keuntungan, mengapa mereka harus berinvestasi di dalamnya?”

Selain di Indonesia, berbagai proyek China di Kazakhstan dan Arab Saudi juga akan menambah kapasitas produksi sekitar 4 juta mt per tahun.

Di Arab Saudi, Red Sea Aluminium—yang didukung oleh Shandong Innovation Group—sedang membangun smelter berkapasitas 500.000 mt per tahun di Yanbu, dengan target mulai berproduksi pada 2027.

Proyek ini telah mencapai kesepakatan kemitraan awal dengan public investment fund (PIF) milik kerajaan tersebut pada Januari.

Di Kazakhstan, Xinfa tengah mengupayakan pembangunan smelter berkapasitas 2,4 juta mt per tahun di Pavlodar, yang merupakan salah satu proyek terbesar dalam daftar rencana pengembangan.

Secara global, Morgan Stanley memperkirakan ada penambahan kapasitas tahunan baru sekitar 2,1 juta ton pada 2027 dan 2,2 juta ton pada 2028.

Andrew Denton, Direktur Riset AME Group—perusahaan analisis industri logam yang berbasis di Sydney— mengungkap permintaan logam dari China, baik untuk sektor manufaktur maupun kendaraan listrik, telah melampaui batas kapasitas domestik.

Hal inilah yang mendorong ekspansi ke luar negeri, sejalan dengan proyeksi perusahaan mengenai peningkatan konsumsi yang diperkirakan terus berlanjut hingga 20 tahun ke depan.

“Proyek-proyek ini tentu didasarkan pada pandangan jangka panjang mengenai pertumbuhan permintaan aluminium primer, yang memang kami amati,” ujarnya.

“Tren permintaan yang lebih luas, yang didorong oleh elektrifikasi dan kendaraan listrik, memberikan prospek positif bagi aluminium.”

Berdasarkan tinjauan Reuters terhadap pengungkapan perusahaan dan dokumen pemerintah, investor China telah merencanakan atau mengumumkan kapasitas smelter aluminium utama setidaknya sebesar 15 juta mt per tahun yang tersebar di Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Tengah, dan Afrika.

Sekitar 2,85 juta mt per tahun dari kapasitas tersebut saat ini sedang dalam tahap peningkatan operasional atau konstruksi, yang setara dengan 3,8% dari kapasitas global tahunan saat ini sebesar 73,78 juta mt.

Menurut prakiraan Morgan Stanley yang dirilis pada Juli, proyek-proyek smelter baru dalam waktu dekat, ditambah dengan pemulihan tingkat produksi di Timur Tengah, diperkirakan mengubah kondisi pasar aluminium global—dari defisit 1,1 juta mt tahun ini menjadi surplus 830.000 mt pada tahun depan, dan surplus 1,8 juta mt pada 2028.

Penambahan kapasitas yang diperkirakan ini kemungkinan akan menekan harga logam tersebut.

Sebelumnya, Morgan Stanley telah merevisi turun prakiraan harga rata-rata untuk 2027 menjadi US$2.850 per mt, dan untuk 2028 menjadi US$2.800 per mt. Harga aluminium diperkirakan mencapai rata-rata US$3.150 pada paruh kedua 2026.

Harga acuan aluminium untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange ada di angka US$3.097,50 per mt pada Rabu pukul 10.00 WIB.

Dalam riset berbeda, Shanghai Metals Market (SMM) memprediksi tambahan kapasitas produksi smelter aluminium di Indonesia pada 2027 bakal meningkat menjadi sekitar 2,25 juta mt.

Berdasarkan riset SMM, hingga saat ini sudah terdapat sekitar 1,48 juta mt tambahan kapasitas smelter aluminium yang beroperasi pada 2026, sedangkan sekitar 420.000 mt diperkirakan beroperasi pada kuartal IV-2026.

“Indonesia tetap menjadi pusat utama commissioning kapasitas baru, dengan sekitar 3,5 juta mt kapasitas yang diusulkan untuk mulai beroperasi pada 2026—2027. Angka tersebut setara dengan 66% dari total tambahan kapasitas di luar China yang diperkirakan mencapai 5,34 juta mt,” tulis SMM dalam risetnya yang dipublikasikan pada September 2026.

Secara umum, SMM mencatat ekspansi kapasitas aluminium primer global masih terus berlangsung di berbagai negara. (ros/wdh)

Sumber:

– 28/10/2026

Temukan Informasi Terkini

Penjualan Emas Antam (ANTM) 25,2 Ton, Pabrik Logam Mulia Baru Dibangun di Gresik

baca selengkapnya

Freeport Minta Kejelasan Bea Keluar Emas 10%, Singgung Ketentuan IUPK

baca selengkapnya

Merdeka Gold (EMAS) Siapkan US$11,4 Juta untuk Eksplorasi Pani

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top