Produksi Tembaga China Pecahkan Rekor, Ditopang Harga Asam Sulfat

Pabrik peleburan (smelter) tembaga di China menghasilkan volume logam olahan yang memecahkan rekor bulan lalu, di tengah lonjakan harga asam sulfat sebagai produk sampingan yang mendorong peningkatan produksi dan membantu profitabilitas industri di Negeri Panda.

Produksi logam merah yang merupakan kunci transisi energi ini naik menjadi 1,33 juta ton pada Maret di China, tertinggi dalam data sejak 1990, menurut angka dari Biro Statistik Nasional (NBS) pada Selasa (21/4/2026). Hal itu membawa produksi pada kuartal I-2026 menjadi 3,785 juta ton, naik 9,3% dari tahun sebelumnya.

Smelter tembaga di China, negara pemasok terbesar di dunia, telah terbukti tangguh dalam beberapa kuartal terakhir, bahkan ketika penurunan biaya pemrosesan ke rekor terendah yang disebabkan oleh kekurangan konsentrat mendorong para pesaing untuk mengurangi produksi, termasuk di Jepang.

Perusahaan-perusahaan tersebut —yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan milik negara yang besar dan efisien— telah dibantu oleh komitmen mereka terhadap target pertumbuhan pemerintah daerah, serta akses ke limbah logam sebagai bahan baku alternatif.

Dorongan penting lainnya datang dari peningkatan pendapatan dari asam sulfat, dengan harga di China mencapai rekor tertinggi setelah perang di Iran memutus pasokan sulfur yang berasal dari produksi minyak dan gas (migas).

Untuk setiap ton tembaga, pabrik peleburan di China dapat memperoleh lebih dari 5.000 yuan (US$733) dari asam sulfat, meningkatkan keinginan mereka untuk beroperasi, kata Yang Changhua, kepala ahli di Beijing Antaike Information Co., dalam sebuah konferensi pekan lalu.

Namun demikian, produksi mungkin akan melambat. Produksi tembaga diperkirakan akan menurun pada April dan bulan berikutnya karena pemeliharaan musiman pabrik peleburan, dengan dampak yang diperkirakan terlihat terutama pada Mei, menurut Pasar Logam Shanghai.

Pada logam dasar lainnya, produksi seng naik 3,6% menjadi 637.000 ton bulan lalu dibandingkan dengan tahun lalu, dengan produksi kuartal pertama naik 4,1% menjadi 1,839 juta ton, menurut data NBS.

Produksi timbal turun 11% menjadi 652.000 ton pada Maret, dan turun 4,1% menjadi 1,81 juta ton hingga saat ini tahun ini. (bbn)

Sumber:

– 21/04/2026

Temukan Informasi Terkini

Fitch Ingatkan Kenaikan Risiko Kredit Sektor Tambang RI, Ini Pemicunya

baca selengkapnya

Klaim Asuransi di Sektor Tambang Rawan Sengketa

baca selengkapnya

Revisi Harga Patokan Mineral Nikel Jadi Angin Segar, Prospek INCO Makin Menarik

baca selengkapnya

Bersama, Kita Majukan Industri Pertambangan!

Jadilah anggota IMA dan nikmati berbagai manfaat, mulai dari seminar, diskusi strategis, hingga kolaborasi industri.

Scroll to Top