Harga emas dunia dan logam mulia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan kenaikan pada perdagangan pekan depan. Hal ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik global.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan arah pergerakan emas tidak lepas dari memanasnya tensi geopolitik global.
Pada perdagangan Sabtu, 22 Agustus 2026, Ibrahim mencatat harga emas dunia berada di posisi USD4.604 per troy ons. Jika mengalami koreksi, ia memprediksi harga emas akan berkutat disuport pertama di harga USD4.520 per troy ons.
“Kalau seandainya harga emas dunia mengalami kenaikan ya resistance pertama itu di level USD4.676 per troy ons dan target resisten mingguan menembus area USD4.766 per troy ons,” ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 23 Agustus 2026.
Secara keseluruhan, Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia pekan depan bakal ditransaksikan pada rentang harga USD4.437 hingga USD4.766 per troy ons.
Di sisi lain, harga logam mulia pada Sabtu, 22 Agustus 2026, ditutup pada level Rp2.746.000 per gram. Ibrahim menyebut jika bergerak melemah, level support harian awal berada di level Rp2.726.000 per gram dan batas support mingguan tercatat di kisaran Rp2.600.000 per gram.
Apabila harga logam mulia mengalami kenaikan resistance pertama itu di 2.764.000 rupiah per gram dengan resistance sepekan mencapai Rp2.864.000 per gram.
“Jadi kesimpulannya kalau harga loga mulia pekan depan itu ditransaksikan di Rp2.600.000 per gram sampai di Rp2.864.000 per gram,” jelas dia.
Ibrahim menilai faktor utama pembentuk sentimen pasar berasal dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya rencana pengumuman sanksi ekonomi terbaru dari Amerika Serikat terhadap Iran.
Menurutnya rencana sanksi tersebut mendapatkan kecaman keras dari pihak Iran. Isu ini turut menyeret Tiongkok sebagai mitra bisnis utama.
“Kenapa? Karena sampai saat ini importer terbesar minyak mentah dari Iran 80 persen itu adalah Tiongkok,” pungkas Ibrahim.
HPE dan HR Emas Naik di Periode II Agustus 2026, Kemendag Beberkan Pemicunya
Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) dan Harga Referensi (HR) untuk komoditas emas pada periode II Agustus 2026.
HPE emas ditetapkan sebesar USD131.777,67 per kilogram atau naik 0,65 persen dari periode I Agustus 2026 yang sebesar USD130.921,50 per kilogram.
Kemudian, HR emas juga naik menjadi USD 4.098,75 per troy ounce (t oz) dari USD 4.072,12 per t oz.
Ketentuan HPE dan HR emas ditetapkan dalam “Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 1716 Tahun 2026 tentang Harga Patokan Ekspor dan Harga Referensi atas Produk Pertambangan yang Dikenakan Bea Keluar”. Kepmendag tersebut berlaku untuk periode 15–31 Agustus 2026.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan naiknya HPE dan HR emas dipengaruhi penurunan suku bunga acuan global yang menyebabkan potensi keuntungan dari instrumen seperti deposito menjadi kurang optimal.
“Hal ini mendorong investor untuk memindahkan likuiditasnya ke komoditas emas untuk melindungi nilai aset,” ujar dia dalam keterangannya, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Tommy, kondisi peralihan investasi tersebut berdampak langsung pada meningkatnya permintaan emas di pasar global.
Dengan pasokan emas yang cukup terbatas, situasi ini memicu kenaikan harga emas di pasar internasional. Selain itu, melemahnya nilai tukar mata uang utama global serta menurunnya tingkat imbal hasil obligasi di pasar internasional turut menjadi faktor yang mendorong peningkatan HPE dan HR emas periode II Agustus 2026.
Tommy juga menyampaikan, nilai emas tercatat naik 0,65 persen selama periode pengumpulan data.
Sebagai informasi, HPE dan HR emas ditetapkan berdasarkan data dan masukan teknis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang mengacu pada publikasi London Bullion Market Association (LBMA).
“Penetapan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga berdasarkan informasi, data, dan masukan yang disampaikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perindustrian,” pungkas Tommy.
Rekor Emas USD5.594 Mulai Menjauh
Sebelumnya diberitakan, peneliti Komoditas Asia dari Reuters, Clyde Russell, melihat sejarah harga emas menunjukkan bahwa reli besar biasanya diikuti periode penurunan yang cukup signifikan. Meski begitu, sebagian besar kenaikan sebelumnya pada akhirnya tetap bertahan.
“Sejarah harga selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa reli yang kuat, seperti reli dari September 2022 hingga Januari 2026 ketika emas naik 245 persen, biasanya diikuti oleh penurunan yang cukup besar, meskipun sebagian besar kenaikan tersebut tetap terkonsolidasi,” tulis Russell dalam analisisnya yang dikutip dari Reuters, Ahad, 23 Agustus 2026.
Pola tersebut terlihat jelas dalam beberapa episode sebelumnya. Dari titik terendah USD697,45 per ons atau sekitar Rp12,48 juta pada Oktober 2008, emas melesat hingga rekor USD1.884,40 atau sekitar Rp33,73 juta pada September 2011. Kenaikan tersebut mencapai 170 persen.
Setelah itu, pesta emas tidak berlangsung selamanya. Harga kemudian turun 37 persen dan mencapai USD1.191,35 per ons atau sekitar Rp21,33 juta pada Agustus 2018.
Dari titik rendah tersebut, emas kembali menanjak. Harga melonjak 74 persen hingga mencapai USD2.072,49 per ons atau sekitar Rp37,10 juta pada Agustus 2020. Namun, reli itu kembali disusul koreksi 22 persen hingga harga menyentuh USD1.620,20 atau sekitar Rp29 juta pada September 2022.
Pola tersebut memberikan satu pelajaran sederhana, meski tentu tidak bisa dianggap sebagai rumus pasti. Semakin besar kenaikan harga, semakin besar pula potensi penurunan setelahnya. Masalah lainnya, reli emas cenderung berlangsung lebih cepat dibandingkan periode penurunannya.
Setelah menyentuh titik terendah pada September 2022, emas kembali melesat. Harga kemudian mencetak rekor sepanjang masa sebesar USD5.594,82 per ons pada 29 Januari 2026 atau sekitar Rp100,15 juta per ons.
Sejak titik tersebut, harga emas telah melemah sekitar 20 persen menjadi USD4.473,89 per ons atau sekitar Rp80,08 juta pada Kamis. Bagi investor yang baru masuk ketika harga berada di sekitar puncak, angka tersebut tentu terasa seperti pukulan. Tetapi bagi mereka yang sudah mengikuti reli sejak 2022, koreksi 20 persen mungkin masih terlihat sebagai pengembalian sebagian keuntungan yang sangat besar.
“Berdasarkan pola reli dan penurunan sebelumnya, tampaknya masih ada kemungkinan terjadi penurunan yang lebih besar dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun ke depan sebelum tren kenaikan kembali berlanjut,” tulis Russell.
