Emiten tambang logam menikmati kenaikan kinerja di sepanjang kuartal III/2026, didukung oleh harga tinggi komoditas. Untuk memaksimalkan keuntungan, volume produksi juga dikerek sembari mengembangkan bisnis di sisi hilirisasi.
Berdasarkan laporan keuangan emiten yang dihimpun Bisnis, PT Timah (Persero) Tbk. (TINS) mencatatkan pertumbuhan laba tertinggi sebesar 584% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp4,12 triliun hingga September 2026.
Pendapatan perseroan juga melonjak 144,4% menjadi Rp16,15 triliun, didukung kenaikan harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) sebesar 57,55% menjadi US$51.636,61 per metrik ton.
Selanjutnya, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) membukukan laba periode berjalan Rp9,66 triliun, tumbuh 46% yoy dari Rp6,61 triliun. Penjualan bersih meningkat 23% menjadi Rp88,48 triliun dengan emas kontributor utama senilai Rp68,41 triliun atau sekitar 77% dari total penjualan. Penjualan segmen nikel juga naik 52% menjadi Rp16,98 triliun, sedangkan bauksit dan alumina tumbuh 35% menjadi Rp2,64 triliun.
Pertumbuhan laba juga dicatatkan PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL). Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp8,69 triliun hingga kuartal III/2026, naik 34,8% yoy. Pendapatan meningkat 19,9% menjadi Rp26,87 triliun, meski kenaikan beban pokok penjualan sebesar 33,9% membuat laba bruto terkoreksi 8,6% menjadi Rp6,74 triliun.
PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) membukukan laba bersih US$147 juta atau sekitar Rp2,66 triliun, hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan US$52 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan meningkat 27% menjadi US$896 juta, seiring kenaikan pengiriman nikel matte menjadi 20.158 ton pada kuartal III/2026 dari 13.932 ton pada kuartal sebelumnya. Produksi nikel matte mencapai 18.341 ton, tertinggi sepanjang 2026, sementara EBITDA kumulatif naik menjadi US$297 juta dari US$166 juta.
Adapun PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) berhasil berbalik dari posisi rugi menjadi laba bersih US$871,46 juta atau sekitar Rp15,56 triliun hingga September 2026. Pendapatan perseroan melonjak menjadi US$3,23 miliar dari US$545,33 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut ditopang kenaikan produksi konsentrat 87% menjadi 580.713 metrik ton kering, produksi tembaga 129% menjadi 332 juta pon, dan produksi emas 616% menjadi 541.337 ons.
Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatatkan penjualan produk US$817,3 juta pada kuartal III/2026. Produk berbasis nikel masih menjadi kontributor terbesar, sedangkan bisnis emas dan hilirisasi asam sulfat memperluas sumber pendapatan. Penjualan asam sulfat mencapai 290.000 ton senilai US$98,4 juta, sementara bisnis emas menghasilkan pendapatan US$72,9 juta dengan produksi 50.142 ons dari Tambang Emas Pani dan Tujuh Bukit.
MDKA juga menyiapkan pembangunan fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) tahap pertama di Tambang Emas Pani berkapasitas 12 juta ton per tahun. Jika fasilitas tahap kedua dengan kapasitas serupa beroperasi, kapasitas produksi emas Pani ditargetkan meningkat dari 250.000–350.000 ons menjadi 500.000–700.000 ons per tahun.
Di sisi lain, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) mencatatkan rekor produksi bijih nikel sebesar 12,3 juta wet metric tons (wmt) pada kuartal III/2026, naik 61% yoy. Margin tunai saprolit melonjak 23 kali lipat menjadi US$35,8 per wmt, sedangkan margin limonit meningkat 85% menjadi US$12 per wmt.
Meski produksi hulu menguat, bisnis pemrosesan nikel MBMA masih menghadapi tekanan biaya bijih, energi, dan peleburan. Sementara itu, fasilitas Acid Iron Metal (AIM) memproduksi 291.198 ton asam sulfat, naik 13% secara kuartalan, dengan pendapatan meningkat 18% menjadi sekitar US$98 juta.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca. Editor : Dwi Nicken Tari
