Berbagai opsi alternatif mulai dijajaki pelaku industri smelter nikel untuk mengatasi kelangkaan sulfur global. Namun, hambatan teknis dan logistik membuat solusi tersebut belum efektif menopang kebutuhan produksi.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah menuturkan, gangguan pasokan sulfur global mendorong pelaku usaha mencari alternatif sumber dari negara lain. Namun, upaya tersebut tidak mudah karena keterbatasan volume serta jarak distribusi yang lebih jauh.
Dia menjelaskan, sebagian pelaku industri mulai mempertimbangkan impor dalam bentuk asam sulfat sebagai solusi jangka pendek. Kendati demikian, opsi ini menghadapi tantangan logistik dan perizinan yang kompleks.
Arif menerangkan, proses pengiriman asam sulfat membutuhkan penanganan khusus. Proses perizinan impor untuk barang tersebut juga dinilai belum cukup fleksibel untuk merespons kondisi darurat.
Dia menekankan perlunya intervensi pemerintah untuk menjaga keberlangsungan industri hilirisasi. Kebijakan percepatan izin impor asam sulfat dinilai menjadi langkah krusial dalam kondisi saat ini.
“Diperlukan kebijakan pemerintah dalam hal untuk mempermudah pemberian izin impor asam sulfat pada saat kondisi darurat seperti ini,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (6/5/2026).
Adapun, Arif menilai kelangkaan sulfur telah menjadi risiko serius bagi industri pengolahan nikel berbasis hidrometalurgi. Ketergantungan tinggi terhadap impor membuat rantai pasok domestik rentan terhadap gejolak geopolitik.
Sulfur merupakan bahan baku utama untuk memproduksi asam sulfat yang digunakan dalam proses pelindian pada fasilitas high pressure acid leaching (HPAL). Proses ini menjadi kunci dalam produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai.
Tekanan mulai terlihat dari lonjakan harga sulfur yang kini mencapai lebih dari US$960 hingga US$1.300 per ton. Angka ini melonjak tajam dibandingkan April tahun lalu yang hanya sekitar US$275 per ton.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada struktur biaya proyek HPAL. Kebutuhan sulfur yang mencapai 10 hingga 12 ton untuk setiap 1 ton nikel dalam bentuk MHP membuat biaya produksi meningkat signifikan.
Indonesia sebagai produsen terbesar MHP dunia masih sangat bergantung pada impor sulfur, terutama dari Timur Tengah. Pada 2025, sekitar 75% hingga 80% dari total impor sulfur nasional yang mencapai 5,3 juta ton berasal dari kawasan tersebut.
Ketergantungan ini menjadi titik lemah ketika terjadi gangguan distribusi, termasuk penutupan Selat Hormuz. Kondisi tersebut menghambat bahkan berpotensi memutus pasokan bahan baku utama bagi refinery HPAL di dalam negeri.
“Situasi ini akan juga mengakibatkan kelangkaan material sulfur di tingkat global dan menaikkan harga secara signifikan,” ujar Arif. Editor : Denis Riantiza Meilanova
